Kamis, 17 Mei 2012

ATRIBUSI

Pengertian Atribusi
Atribusi merupakan proses-proses untuk mengidentifikasi penyebab-penyebab perilaku orang lain dan kemudian diketahui tentang sifat-sifat menetap dan disposisi mereka (Baron dan Byrne, 2003: 49). Atribusi juga dapat diartikan dengan upaya kita untuk memahami penyebab dibalik perilaku orang lain, dan dalam beberapa kasus juga penyebab perilaku kita sendiri. Untuk mengetahui tentang orang-orang yang ada di sekitar kita dapat melalui beberapa macam cara:
1.    Melihat apa yang tampak (fisik). Misalnya cara berpakaian, cara penampilan diri.
2.    Menanyakan langsung kepada yang bersangkutan, misalnya tentang pemikiran, tentang motif.
3.    Dari perilaku yang bersangkutan. Hal ini merupakan sumber yang penting.

Macam Atribusi

Menurut Heider (dalam Sarlito Wirawan, 1999: 102), Atribusi dapat dibedakan menjadi:

1.    Atribusi Internal
Jika perilaku seseorang yang diamati disebabkan oleh factor-faktor internal, misal sikap, sifat-sifat tertentu, ataupun aspek-aspek internal yang lain. Contoh, jika anak memperoleh nilai raport yang jelek, maka sebabnya dapat saja karena anak itu malas, terlalu banyak main, atau bodoh.

2.    Atribusi Eksternal
Jka perilaku sosial yang diamati disebabkan oleh keadaan atau lingkungan di luar diri orang yang bersangkutan. Contoh, jika anak memperoleh nilai raport yang jelek, maka sebabnya dapat saja karena ada masalah dengan lingkungannya, orang tuanya bercerai, hubungan yang jelek dengan orang tua, ditekan oleh teman-teman, ataupun gurunya yang tidak menarik.

Teori-teori Atribusi

1.    Teori Correspondent Inference (penyimpulan terkait)
Teori ini dikemukakan oleh Jones dan Davis (dalam Baron dan Byrne, 2003: 49-51). Menurut teori ini perlunya memusatkan perhatian pada perilaku yang dapat memberikan informasi, yaitu:
  • Perilaku yang timbul karena kemauan orang itu sendiri atau orang itu bebas memilih kelakuannya sendiri perlu lebih diperhatikan dari pada perilaku karena peraturan atau ketentuan atau tata cara atau perintah orang lain. Misalnya, kasir yang cemberut atau satpam yang tersenyum lebih mencerminkan keadaan dirinya dari pada kasir yang harus tersenyum atau satpam yang harus galak. Demikian juga mertua yang baik kepada menantu (walaupun ia dapat saja galak) atau orang yang memberi tempat duduk pada wanita tua di bus yang penuh sesak (walaupun ia dapat saja tetap duduk) benar-benar mencerminkan atribusinya sendiri karena merekamempunyai pilihan sendiri.
  • Perilaku yang membuahkan hasil yang tidak lazim lebih mencerminkan atribusi pelaku dari pada yang hasilnya yang berlaku umum. Misalnya, wanita yang mau dengan pria yang gendut, jelek, miskin, tapi penuh perhatian, lebih dapat diandalkan cintanya dari pada wanita yang suka kepada pria ganteng, kaya, dan berpendidikan tinggi. Contoh lainnya, seorang lulusan SMA yang pandai dan dapat diterima di fakultas Kedokteran atau fakultas Ekonomi, tetapi Ia justru memilih jurusan Ilmu Purbakala, lebih jelas motivasinya dari pada siswa yang prestasinya rata-rata, tetapi bersikeras masuk ke fakultas Kedokteran atau ekonomi
  • Perilaku yang tidak biasa lebih mencerminkan atribusi dari pada perilaku yang umum. Misalnya, seorang pelayan toko menunjukkan toko lain kepada pelanggannya yang menanyakan barang yang tidak tersedia di toko tersebut. Contoh lainnya, seorang pria muda yang mencintai wanita setengah baya yang belum menikah.

2.    Teori sumber perhatian dalam kesadaran (conscious resources)
Teori ini menekankan proses yang terjadi dalam kognisi orang yang melakukan persepsi (pengamatan). Gilbert dkk. (dalam Sarlito Wirawan, 1999: 104-105) mengemukakan bahwa atribusi harus melewati kognisi, dan dalam kognisi melewati tiga tahap, yaitu:
  • Kategorisasi. Dalam tahap ini, pengamat menggolongkan dulu perilaku orang yang diamati (pelaku) dalam jenis atau golongan tertentu sesuai denggan bagan atau skema yang sudah terekam dalam kognisi pengamat (dinamakan skema kognisi). Misalnya, dalam skema kognisi john sudah ada golongan-golongan perilaku, yaitu ramah, bersahabat, curang, mau menang sendiri dan sebagainya. Pada awalnya john menggolongkan perilaku Wayan dalam ramah dan bersahabat, tapi sejak Wayan membawa kemenakannya tanpa persetujuannya, perilaku wayan dikategorikan sebagai curang, dan tidak memperhatikan teman.
  • Karakterisasi. Pengamat membuat atribusi kepada pelaku berdasarkan kategorisasi tersebut. Jadi, John memberi sifat baik hati dan bersahabat kepada Wayan ketika Ia berada di Bali, sementara waktu di Jakarta John mengatribusikannya sebagai curang, dan tidak memperhatikan teman karena membawa kemenakannya tanpa izin.
  • Koreksi. Tahap yang terakhir adalah mengubah atau memperbaiki kesimpulan yang ada pada pengamat tentang pelaku. Dalam kasus John, ia mengoreksi simpulannya tentang Wayan dari orang yang ramah dan bersahabat menjadi orang yang curang dan tidak memperhatikan teman sejak John mendapat informasi baru tentang perilaku Wayan selama Ia dan kemenakannya berada di Jakarta.

3.    Teori atribusi internal dan eksternal dari Kelly (1972; Kelly & Michela, 1980)
Menurut teori ini, ada tiga hal yang perlu diperhatikan untuk menetapkan apakah perilaku beratribusi internal atau eksternal, yaitu:
  • Konsensus. Consensus merupakan derajat kesamaan reaksi orang lain terhadap stimulus atau peristiwa tertentu dengan orang yang sedang kita observasi. Apakah suatu perilaku cenderung dilakukan oleh semua orang pada situasi yang sama. Makin banyak yang melakukannya, makin tinggi consensus, dan sebaliknya.
  • Konsistensi. Konsisten adalah derajat kesamaan reaksi seseorang terhadap stimulus atau peristiwa yang sama pada waktu yang berbeda. Apakah pelaku yang bersangkutan cenderung melakukan perilaku yang sama di masa lalu dalam situasi yang sama. Kalau “ya”, konsistensinya tinggi, kalau “tidak”, konsistensinya rendah
  • Distingsi atau kekhususan. Distingsi merupakan derajat perbedaan reaksi seseorang terhadap berbagai stimulus atau peristiwa yang berbeda-beda. Apakah pelaku yang bersangkutan cenderung melakukan perilaku yang sama di masa lalu dalam situasi yang berbeda-beda. Bila seseorang memberikan reaksi yang sama terhadap stimulus yang berbeda-beda, maka dapat dikatakan orang yang bersangkutan memiliki distingsi yang rendah.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, Kelly berpendapat bahwa atribusi internal, atribusi eksternal, dan atribusi internal-eksternal mempunyai corak determinan yang berbeda-beda. Hal tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Macam atribusi
Determinan    Atribusi
internal    Atribusi
eksternal    Atribusi
internal-eksternal
Konsensus    Rendah    Tinggi    Rendah
Konsistensi    Tinggi    Tinggi    Tinggi
Distingsi    Rendah     Tinggi    Tinggi

4.    Atribusi karena faktor lain (Baron & Byrne, 1994)
Kalau seorang ibu marah-marah kepada anaknya, atribusi yang mungkin diberikan oleh orang yang menyaksikan (pengamat) adalah bahwa ibu itu (pelaku) galak kepada anaknya. Apalagi, jika marah-marah itu dilakukan di depan orang lain yang seharusnya tidak menyaksikan perilaku seperti itu (misalnya di hadapan guru anaknya), kesan atribusi internal (ibu itu memang galak) akan lebih kuat lagi. Akan tetapi, jika ibu itu marah karena tiba-tiba anaknya menyeberang jalan sekenanya dan hampir tertabrak mobil, simpulan pengamat cenderung pada atribusi eksternal dari pada internal (pantas ibu itu marah-marah karena anaknya nakal, melakukan hal yang berbahaya).

Kesalahan Atribusi

Bagaimanapun juga, pemberian atribusi bisa salah. Kesalahan itu menurut Baron & Byrne (dalam Sarlito Wirawan Sarwono, 1999: 109-112) dapat bersumber dari beberapa hal, yaitu:

1.    Kesalahan atribusi yang mendasar (fundamental error)
Yaitu kecenderungan untuk selalu memberi atribusi internal. Menurut Robert A. Baron dan Donn Byrne (2003: 58)  kesalahan atribusi fundamental merupakan kecenderungan yang terlalu berlebihan dalam memperhitungkan pengaruh faktor disposisi pada perilaku seseorang. Padahal ada kemungkinan besar pula perilaku perilaku disebabkan oleh faktor eksternal (adat, tradisi, kebiasaan masyarakat, dan sebagainya).

2.    Efek pelaku pengamat
Kesalahan ini adalah kecenderungan mengatribusi perilaku kita yang disebabkan oleh faktor eksternal, sedangkan perilaku orang lain disebabkan oleh faktor internal. Misalnya, jika ada orang lain yang jatuh terpeleset, kita katakana dia tidak hati-hati. Akan tetapi, jika kita sendiri yang terpeleset dan jatuh, kita katakan bahwa lantainya yang licin. Hal ini disebabkan karena kita memang cenderung lebih sadar pada faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi perilaku kita dari pada yang mempengaruhi perilaku orang lain. Oleh karena itu kita cenderung menilai perilaku kita disebabkan faktor eksternal dari pada internal. Proses persepsi dan atribusi sosial tidak hanya berlaku dalam hubungan antar pribadi, melainkan juga terjadi dalam hubungan antar kelompok, karena pada hakikatnya prinsip-prinsip yang terjadi di tingkat individu dapat digeneralisasikan ke tingkat antar kelompok.

3.    Pengutamaan diri sendiri (self-serving biss)
Kesalahan mengutamakan diri sendiri adalah kecenderungan mengatribusi perilaku kita yang positif pada faktor-faktor internal, dan mengatribusi perilaku yang negative pada faktor-faktor eksternal. Misalnya, jika kita mengerjakan tugas dan mendapatkan pujian “tugas yang luar biasa” mungkin kita akan menjabarkan dengan faktor-faktor internal (kita berbakat, kita mengerjakannya dengan serius, dan lain sebagainya), tetapi jika sebaliknya, tugas kita mendapat celaan “tugas yang sangat buruk” maka kemungkinan besar kita akan mengatakan bahwa penyebabnya adalah faktor-faktor eksternal (dosen tidak adil dalam memberi nilai, kita tidak punya cukup waktu untuk mengerjakan, dan lain-lain).   Setiap orang cenderung untuk membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain. Dalam hubungan antarpribadi, kecenderungan untuk memberi atribusi internal maupun eksternal pada hal-hal yang negatif ini dipengaruhi oleh kepribadian pengamat.

Aplikasi Teori Atribusi

1.    Atribusi dan depresi
Depresi adalah gangguan psikologis yang paling umum, yang sering disebabkan oleh pola atribusi untuk menyalahkan diri sendiri (self-defeating). Biasanya orang depresi mengatribusi hasil-hasil negative dari prilaku mereka yaitu faktor-faktor internal seperti sifat dan ketidakmampuan. Sebaliknya hasil-hasil positif dinilai sebagai hal yang bersifat temporer dan berasal dari faktor eksternal seperti nasib baik atau pertolongan orang lain.hasilnya orang tersebut tidak merasa memiliki, atau sedikit sekali, kontrol atas hal-hal yang terjadi pada dirinya. Akhirnya mereka menjadi demikian depresi dan cenderung mudah menyerah dalam hidup.
Berbagai teknik terapi yang bertujuan untuk membuat orang yang depresi merubah atribusinya yaitu dengan mulai memberi nilai tambah personal pada kesuksesan mereka, berhenti menyalahkan diri sendiri atas setiap kegagalan, dan mencoba memandang beberapa kegagalan tersebut sebagai faktor eksternal yang ada diluar jangkauan mereka. Terapi seperti ini tidak mengeksplorasi lebih dalam tentang berbagai hal seperti kehendak yang terpendam, konflik pribadi, atau peristiwa-peristiwa traumatik yang terjadi semasa kecil.

2.    Atribusi dan prasangka
Misalnya, ketika ada seorang berasal dari dari kelompok minoritas yang melamar pekerjaan kemudian ditolak. Orang itu berprasangka bahwa ia ditolak karena dia berasal dari kelompok minoritas.

Selasa, 15 Mei 2012

MIMPI DI ATAS KELOPAK TULIP

Tulip, salah satu bunga kebanggaan Negeri Belanda yang terkenal hingga seluruh antero dunia. Siapa sangka Tulip yang berasal dari Asia Tengah, tumbuh liar di kawasan pegunungan Pamir dan pegunungan Hindu Kush dan stepa di Kazakhstan ini bisa berkembang dengan indah di Belanda hingga bahkan menjadikan Belanda terkenal sebagai Negeri Bunga Tulip. Inilah bukti kretifitas Bangsa Belanda. Kreatifitas yang membesarkan Bangsa. Meski negara yang hanya seluas provinsi jawa barat ini letaknya di bawah permukaan laut, mereka mampu mengembangkan bunga Tulip hingga memancarkan pesona luar biasa yang membawa mereka menjadi salah satu negara yang sangat diminati pengunjung dari seluruh belahan dunia, demi menikmati keindahan bunga Tulip. 
Dalam sejarahnya bunga tulip telah lama dibudidayakan lebih dari 400 tahun yang lalu dan saat ini Belanda telah berhasil memproduksi lebih dari sembilan miliar umbi setiap tahun, dimana dua pertiga diekspor ke luar negeri. Bunga Tulip selalu diidentikkan dengan negara Belanda. Ribuan wisatawan datang ke Belanda hanya untuk mengagumi bunga yang cantik dan berwarna cerah ini, yang banyak ditanam di taman-taman negara Kincir Angin itu. Kota Keukenhof di Belanda, setiap tahunnya bahkan dikunjungi sekitar 800.000 orang dari seluruh dunia yang ingin menyaksikan keindahan aneka bunga tulip dalam Festival Tulip yang diselenggarakan setiap tahun di kota itu. Tak heran masih banyak orang yang beranggapan bahwa bunga tulip adalah bunga asli dari Belanda. 

Kemunculan berbagai warna Tulip yang kini beraneka ragam adalah berkat usaha abad ke-17 ketika para pecinta tulip mengumpulkan dan bereksperimen memilih tulip dan memunculkan varietas baru. Inovasi dalam memadukan keindahaan alam dengan teknologi rekayasa genetik inilah yang memunculkan kreatifitas tak terhingga, menciptakan kekaguman bagi penikmat pesona bunga Tulip. Layaknya kreatifitas dalam membudidayakan Tulip, masyarakat belanda memiliki kreatifitas dalam berbagai segi kehidupan. Hal ini pulalah yang ngantarkan Negeri Belanda berada di peringkat dua sebagai negara terbaik untuk melakukan bisnis, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg. Hong Kong ada di peringkat pertama. Indeks ini dibuat berdasarkan enam kriteria termasuk tingkat integrasi ekonomi dan biaya tenaga kerja. 

Indahnya hasil kretifitas yang membesarkan Bangsa Belanda tergambar dalam kelopak-kelopan indah bunga Tulip. Dan mimpiku akan ku letakkan pula di atas kelopak tulip, melejitkan kreatifitas dan membesarkan Bangsa Indonesia tercinta.


Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Tulip
http://blog.ub.ac.id/annisaarahmawati/2012/04/17/karpet-tulip-di-belanda/
http://nesoindonesia.or.id/indonesian-students/kompetiblog-2012/resources/ekonomi/belanda-negara-terbaik-kedua-di-dunia-sebagai-best-place-for-business

BELANDA DAN PESONA KREATIFNYA

Masyarakat Belanda adalah masyarakat sangat kreatif dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam yang mereka miliki. Meski sebagian besar wilayahnya tertutup air, namun berkat kreativitas yang dimilikinya, masyarakat Belanda memanfaatkan melimpahnya air sebagai sarana transportasi, pembangkit listrik, dan sebagainya. 

Salah satu sungai yang digunakan sebagai sarana transportasi yang sangat terkenal adalah sungai Amstel di Amsterdam. Salah satu yang membuatnya menarik dan menjadi terkenal selain sebagai sarana transportsi adalah karena di sungai ini terdapat sebuah jembatan yang sangat indah bernama The Brug Magere ("Jembatan Kurus") Jembatan ini menghubungkan tepi sungai di Kerkstraat (Church Street), antara Keizersgracht (Kaisar 'Canal) dan Prinsengracht (Princes' Canal). 

Bagian tengah dari Magere Brug adalah jembatan bascule terbuat dari kayu bercat putih. Jembatan ini dibangun pada tahun 1934. Jembatan pertama di situs ini dibangun pada 1691 sebagai Kerkstraatbrug dan memiliki 13 lengkungan. Karena jembatan ini sangat sempit, penduduk setempat menyebutnya magere brug, yang secara harfiah berarti "jembatan kurus". Pada tahun 1871 keadaan jembatan itu begitu buruk sehingga dihancurkan dan diganti dengan jembatan sembilan kayu melengkung. Lima puluh tahun kemudian jembatan ini juga diganti. Arsitek Piet Kramer membuat beberapa desain untuk baja dan jembatan batu, tetapi kota memutuskan untuk menggantinya dengan jembatan baru yang tampak sama dengan sebelumnya, hanya sedikit lebih besar. Pada tahun 1934 jembatan itu dibongkar dan diganti. Renovasi besar terakhir adalah pada tahun 1969. Sampai tahun 1994 jembatan itu dibuka oleh tangan, tapi sekarang dibuka secara otomatis. 


Penggunaan jembatan telah terbatas pada pejalan kaki dan pengendara sepeda sejak tahun 2003. Meskipun demikian dibuka berkali-kali sehari dalam rangka untuk melestarikan jalan melalui lalu lintas sungai. Perahu-perahu yang digunakan untuk wisata cukup rendah untuk melewati bawah jembatan ketika tertutup. Jembatan ini dihiasi dengan 1200 bola lampu yang dinyalakan pada malam hari. Jembatan ini juga menjadi latar dalam sejumlah film, seperti film James Bond, Diamonds Are Forever pada tahun 1971 Beberapa inovasi dan renovasi dari masa ke masa terhadap jembatan ini merupakan segelintir contoh betapa kreatifnya bangsa Belanda. Masih ada banyak kreatifitas lain yang membuat negara Belanda layak mendapatkan peringkat 8 negara terkreatif dan terinovatif di dunia.

Jika Masa Lalu Begitu Menyiksa

------ Terkadang, bayang-bayang masa lalu bisa sangat menyiksa. Apalagi jika harus mengingat suatu hal yang tidak ingin kita ingat. Lalu bagaimana menyikapi hal yang demikian? Tidak bisa dipungkiri akupun pernah merasakan keadaan dimana aku sendiri tidak bisa mengendalikan ingatan dan rasa sakit karena ingatan itu. Dan mungkin sampai sekarangpun hal itu masih aku alami, meski aku simpan sendiri. Namun beberapa waktu aku berhasil melaluinya dengan baik dan dengan berbagai cara. Yakni salah satunya dengan berusaha meyakinkan "kognitif" dan "omosi" sendiri. dalam ilmu psikologi yang ku pelajari, teknik ini disebut "Rational Emotif Therapy". Yakni dengan menekan pikiran-pikiran dan perasaan yang tidak rasional kemudian memunculkan pikiran dan perasaan yang rasional. yang lebih sering terlibat dalam metode ini adalah teknik konfrontasi dengan merujuk kenyataan-kenyataan indah yang dialami sehari-hari hingga akhirnya dapat menggeser ingatan masa lalu yang tidak diharapkan itu. Memang jelaas terlihat, pengalaman masa lalu sangat berpengaruh terhadap kehidupan kita sekaang bahkan besok. karenanya, berusaha mengalirkannya ke hal positif sangatlah penting. cara lain yang aku gunakan adalah dengan mengalihkan perhatian melalui kesibukan-kesibkan yang sedikit banyak dapat menghindarkan kita untuk terus teringat pada suatu hal yang sebenarnya tidak diingat. memang terkesan menghindar, namun cara ini paling tidak akan dapat menghibur kita jika kita sudah benar-benar tidak bisa mengendalikan emosi tersebut. Memulai pagi dengan senyuman, menghirup nafas panjang dengan relaks, kemudian merasakan kenyamanan, adalah salah satu cara kita menyadari bahwa telah begitu banyak kenikmatan yang kita dapat dibandingkan hal yang tidak kita inginkan yang telah kita alami di masa lalu. Semangat!! Karena tidak ada alasan untuk tidak selalu bersyukur

Kamis, 26 Mei 2011

BAGAIMANA MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI?

Dalam dunia psikologi, percaya diri merupakan pokok bahasan yang satu sisi bagiannya dipelajari untuk membantu dalam upaya mengembangkan atau memberdayakan individu dalam mecapai prestasi puncak sesuai dengan kelemahan dan kelebihan yang dimilikinya. Jika seseorang termasuk dalam kategori orang yang kurang percaya diri, maka perlu untuk mengembangkannya. Demikian pula dengan yang sudah memiliki rasa percaya diri yang baik, sekiranya perlu untuk mengembangkan rasa percaya diri tersebut. Tentu saja rasa percaya diri yang dimaksud adalah dalam taraf yang wajar (proporsional).

Percaya diri merupakan salah satu kekayaan bagi diri manusia sebagai makhluk pribadi maupun makhluk sosial. Mungkin dengan sejenak membayangkan jika manusia tidak dibekali dengan rasa malu dan berani akan terbayangkan tatanan kehidupan yang memprihatinkan. Akan tetapi jika manusia atau individu memiliki rasa malu yang berlebihan, maka akan menghambat proses pengembangan dirinya sesuai dengan potensi yang sebenarnya dimilikinya.Untuk meningkatkan rasa percaya diri secara wajar perlu untuk diperhatikan hal-hal berikut:



Evaluasi diri secara obyektif


Belajar menilai diri secara obyektif dan jujur. Susunlah daftar "kekayaan" pribadi, seperti prestasi yang pernah diraih, sifat-sifat positif, potensi diri baik yang sudah diaktualisasikan maupun yang belum, keahlian yang dimiliki, serta kesempatan atau pun sarana yang mendukung kemajuan diri. Sadari semua aset-aset berharga kita dan temukan aset yang belum dikembangkan. Pelajari kendala yang selama ini menghalangi perkembangan diri kita, seperti : pola berpikir yang keliru, niat dan motivasi yang lemah, kurangnya disiplin diri, kurangnya ketekunan dan kesabaran, tergantung pada bantuan orang lain, atau pun sebab-sebab eksternal lain.


Jadilah diri sendiri

Dasar memiliki sikap positif terhadap diri sendiri adalah kunci untuk mendapatkan kepercayaan diri. Anda harus percaya dengan diri anda, dari kepribadian Anda, agar dapat benar-benar yakin bahwa anda bisa dan mampu.


Beri penghargaan yang jujur terhadap diri

Sadari dan hargailah sekecil apapun keberhasilan dan potensi yang kita miliki. Ingatlah bahwa semua itu didapat melalui proses belajar, berevolusi dan transformasi diri sejak dahulu hingga kini. Mengabaikan / meremehkan satu saja prestasi yang pernah diraih, berarti mengabaikan atau menghilangkan satu jejak yang membantu kita menemukan jalan yang tepat menuju masa depan. Ketidakmampuan menghargai diri sendiri, mendorong munculnya keinginan yang tidak realistik dan berlebihan; contoh: ingin cepat kaya, ingin cantik, populer, mendapat jabatan penting dengan segala cara. Jika ditelaah lebih lanjut semua itu sebenarnya bersumber dari rasa rendah diri yang kronis, penolakan terhadap diri sendiri, ketidakmampuan menghargai diri sendiri hingga berusaha mati-matian menutupi keaslian diri.


Berkonsentrasi pada kekuatan bukan pada kelemahan

Keyakinan berasal dari dalam. Anda harus berkonsentrasi pada hal-hal positif tentang diri anda. Menulis sepuluh hal positif tentang diri anda.
Memusatkan perhatian pada potensi. Ini adalah alasan Anda harus mencintai diri sendiri dan memiliki kepercayaan diri sendiri. Memberikan penghargaan sendiri untuk setiap hal positif yang Anda tulis tentang diri anda. Ingat, Anda seseorang spesial.


Positive thinking
Cobalah memerangi setiap asumsi, prasangka atau persepsi negatif yang muncul dalam benak kita. Kita bisa katakan pada diri sendiri, bahwa nobodys perfect dan its okay if I made a mistake. Jangan biarkan pikiran negatif berlarut-larut karena tanpa sadar pikiran itu akan terus berakar, bercabang dan berdaun. Semakin besar dan menyebar, makin sulit dikendalikan dan dipotong. Jangan biarkan pikiran negatif menguasai pikiran dan perasaan kita. Hati-hatilah agar masa depan kita tidak rusak karena keputusan keliru yang dihasilkan oleh pikiran keliru. Jika pikiran itu muncul, cobalah menuliskannya untuk kemudian di review kembali secara logis dan rasional. Pada umumnya, orang lebih bisa melihat bahwa pikiran itu ternyata tidak benar.


Meyakini Untuk Bisa

Menanamkan keyakinan pada diri sendiri bahwa bisa melakukan dan menyelesaikan pekerjaan apapun, bahkan yang paling sulit sekalipun. Dengan demikian seseoran telah berpikir positif terhadap diri sendiri. Hal ini dapat memberi kekuatan dan menumbuhkan percaya diri pada diri seseorang setiap kali ingin melakukan sesuatu.


Gunakan self-affirmation

Untuk memerangi negative thinking, gunakan self-affirmation yaitu berupa kata-kata yang membangkitkan rasa percaya diri. Contohnya:
• Saya pasti bisa !!
• Saya adalah penentu dari hidup saya sendiri. Tidak ada orang yang boleh menentukan hidup saya !
• Saya bisa belajar dari kesalahan ini. Kesalahan ini sungguh menjadi pelajaran yang sangat berharga karena membantu saya memahami tantangan
• Sayalah yang memegang kendali hidup ini
• Saya bangga pada diri sendiri


Belajar mensyukuri dan menikmati rahmat Tuhan

Ada pepatah yang mengatakan orang yang paling menderita hidupnya adalah orang yang tidak bisa bersyukur pada Tuhan atas apa yang telah diterima dalam hidup. Apabila kita seperti itu artinya kita tidak pernah berusaha melihat segala sesuatu dari kaca mata positif. Bahkan kehidupan yang kita jalani selama ini pun tidak dilihat sebagai pemberian dari Tuhan. Akibatnya, kita tidak bisa bersyukur atas semua berkat, kekayaan, kelimpahan, prestasi, pekerjaan, kemampuan, keahlian, uang, keberhasilan, kegagalan, kesulitan serta berbagai pengalaman hidup kita. Kita adalah ibarat orang yang selalu melihat matahari tenggelam, tidak pernah melihat matahari terbit. Hidup kita dipenuhi dengan keluhan, rasa marah, iri hati dan dengki, kecemburuan, kekecewaan, kekesalan, kepahitan dan keputusasaan. Dengan "beban" seperti itu, bagaimana kita bisa menikmati hidup dan melihat hal-hal baik yang terjadi dalam hidup kita? Tidak heran jika kita dihinggapi rasa kurang percaya diri yang kronis, karena selalu membandingkan kita dengan orang-orang yang membuat "cemburu" hati kita. Oleh sebab itu, belajarlah bersyukur atas apapun yang kita alami dan percayalah bahwa Tuhan pasti menginginkan yang terbaik untuk hidup kita.

MENGENDALIKAN DAN MENGARAHKAN EMOSI


Emosi yang tak terkendali hanya akan merugikan diri sendiri. Selain menyebabkan energi Anda terkuras habis, Anda akan dicap tidak kuat mental dan tidak dewasa. Makanya, jika Anda digelayuti berbagai masalah, cobalah jangan hanyut dalam emosi, kendalikan diri. Lebih baik Anda coba tenangkan diri dengan menarik nafas dalam-dalam. Orang-orang yang terlatih mengendalikan emosi umumnya tidak pernah panik dalam menghadapi situasi apapun.
Mengendalikan Emosi, Mengarahkannya untuk keberhasilan dan kebahagiaan.
1. Perasaan-perasaan yang kita alami umumnya bersumber dari pikiran. Ketika kita berpikiran negatif, perasaan kita cenderung menjadi negatif. Sebaliknya ketika kita berpikiran positif, perasaan kita cenderung positif. Jadi mengendalikan pikiran adalah langkah pertama untuk mengendalikan perasaan.
2. Biasakanlah memberi kesempatan kepada pikiran untuk mengambil keputusan. Semakin kita mahir menyerahkan keputusan kepada pikiran, maka semakin sehat emosi kita. Itu adalah kondisi ideal dimana akal yang mengendalikan perasaan, bukan perasaan yang mengendalikan akal.
3. Emosi negatif adalah sinyal bahwa ada yang tidak beres dalam diri kita. Ketika suasana hati kita menjadi tidak nyaman, cobalah menenangkannya dengan berdoa, menemui sahabat untuk berbagi perasaan, beristirahat, mendengarkan musik, atau apa saja yang kita sukai.
4. Pertanyakanlah dengan kritis perasaan-perasaan negatif yang kita rasakan. Misalkan, apakah masalahnya terlalu berbahaya sehingga kita begitu ketakutan?. Apakah masalahnya begitu gawat sehingga kita harus marah besar?.
5. Pertanyakanlah dengan tegas keyakinan-keyakinan kita yang salah. Misalnya, Siapa bilang kegagalan itu kebodohan.? Siapa bilang masalah yang kita hadapi itu tidak ada jalan keluarnya.? Siapa bilang kita tidak mampu memaafkan?. Siapa bilang putus cinta itu kiamat?.
6. Kendalikan reaksi kita terhadap situasi yang tidak menyenangkan. Misalnya ketika ada yang menyalip kendaraan kita. Kita bisa memilih untuk marah atau untuk tetap tenang. Yang pertama bisa membuat kita jadi orang yang reaktif dan emosional, tapi yang kedua mengajar kita menguasai diri dengan baik.
7. Perasaan bukanlah masalah benar atau salah. Manusiawi sesekali memiliki perasaan takut, marah, sedih dan kecewa. Yang penting kita tidak larut dalam perasaan-perasaan negatif itu dan tidak mengambil keputusan-keputusan penting dalam suasana hati yang kacau.
8. Perasaan yang negatif dan suasana hati yang buruk bisa juga disebabkan oleh kondisi tubuh yang tidak sehat. Kita bisa saja merasa bete ketika flu, ketika stress, ketika kurang tidur dsb. Tidak perlu mencemaskan perasaan tidak nyaman kita yang bersifat sementara itu. Seringkali melakukan tindakan-tindakan sederhana bisa mengubah suasana hati kita.
9. Hidupkanlah perasaan-perasaan yang menyenangkan sesering mungkin, termasuk untuk hal-hal yang kita inginkan terjadi. Misalnya perasaan gembira, ketika kelak kita bertemu kekasih kita, ketika kelak kita mendapatkan pekerjaan atau bisnis yang kita impikan. Itu adalah salah satu cara mengarahkan emosi untuk membantu mewujudkan impian kita menjadi kenyataan.
10. Belajarlah mengucap syukur dalam segala keadaan. Hati yang penuh dengan ucapan syukur akan membuat hidup lebih ringan, pikiran lebih jernih dan perasaan lebih nyaman sehingga mengendalikan perasaan bukan lagi beban yang berat.
“Emosi adalah kekuatan besar yang bisa menggerakkan hidup kita kearah kebahagiaan dan keberhasilan. Tapi tanpa pengendalian, emosi juga bisa merusak kualitas kehidupan kita”.

ETIKA PERGAULAN


A. Apakah Etika Pergaulan itu ?
Etika pergaulan yaitu sopan santun / tata krama dalam pergaulan yang sesuai dengan situasi dan keadaan serta tidak melanggar norma-norma yang berlaku baik norma agama, kesopanan, adat, hukum dan lain-lain.
B. Mengapa Etika Pergaulan harus diperhatikan ?
1. Manusia dituntut untuk saling berhubungan, mengenal dan membantu.
2. Agar tingkah laku kita diterima dan disenangi oleh siapa saja yang bergaul dengan kita.
3. Tata krama dan tingkah laku sehari-hari merupakan cermin pribadi kita sendiri
C. Apa yang harus diperhatikan dalam pergaulan ?
1. Pandai menempatkan diri
2. Dapat membedakan bagaimana sikap kita terhadap orang yang lebih tua, sebaya, dan yang lebih muda. Misalnya :
1. Orang yang lebih tua / yang dituakan harus kita hormati.
2. Orang yang sebaya harus dihargai
3. Orang yang lebih muda harus disayangi.
D. Dimana dan kapan saja kita harus ber Etika?
Dalam berinteraksi/berhubungan timbal balik dengan seluruh anggota keluarga.
1. Di Sekolah:
Dalam berinteraksi/hubungan timbal balik dengan seluruh personal (Kepala Sekolah, Guru, Tenaga Administrasi/TU, Pesuruh Sekolah, Teman dan lain sebagainya.
2. Di Masyarakat:
Dalam berinteraksi/hubungan timbal balik dengan anggota masyarakat. Misal di Toko dengan pelayan Toko, di Kantor Pos dengan karyawannya, dan sebagainya.
3. Di Rumah:
Dalam berinteraksi/hubungan timbal balik dengan anggota keluarga, baik orang tua maupun saudara.
E. Beberapa contoh sopan santun dalam pergaulan :
1. Dalam berbicara
2. Dalam berkenalan
3. Dalam menelpon
4. Dalam menegur / memberi hormat
5. Dalam bertamu
6. Dalam berpakaian
7. Dalam surat-menyurat.
TATA KRAMA DALAM PERGAULAN
Tata krama dalam pergaulan merupakan aturan kehidupan yang mengatur. hubungan antar sesama manusia. Tata krama pergaulan berkaitan erat dengan etiketatau etika. Kata etiket berasal dari bahasa perancis Etiquette yang berarti tata carabergaul yang baik, dan etika berasal dari bahasa latin Ethic merupakan pedoman carahidup yang benar dilihat dari sudut Budaya, Susila dan Agama.
Dasar - dasar etiket terdiri dari :
1. Bersikap sopan dan ramah kepada siapa saja.
2. Memberi perhatian kepada orang lain.
3. Berusaha selalu menjaga perasaan orang lain.
4. Bersikap ingin membantu.
5. Memiliki rasa toleransi yang tinggi.
6. Dapat menguasai diri, mengendalikan emosi dalam situasi apapun.
Jadi pada prinsipnya dalam etiket anda harus ' Selalu berusaha untuk menyenangkanorang lain '(Always wants to please anybody)' .Manfaat etiket dalam kehidupan seorang manusia adalah :
1. Membuat anda menjadi disegani, dihormati, disenangi orang lain.
2. Memudahkan hubungan baik anda dengan orang lain (Better Human Relation).
3. Memberi keyakinan pada diri sendiri dalam setiap situasi.
4. Menjadikan anda dapat memelihara suasana yang baik dalam berbagailingkungan, baik itu lingkungan keluarga, pergaulan, dan sekolah.